Saat Badai Tak Segera Berlalu…
Rasanya baru sebentar saya bergabung di tim Sentuhan Kasih, tidak terasa sudah 1 tahun berada dalam tim ini. Namun kenangan saat menjadi orang baru tak mudah untuk dilupakan. Laksana bahtera yang tak tergoyahkan, mulai berlayar di lautan biru yang indah; terkadang lupa bahwa lautan biru tidak selamanya tenang. Sewaktu-waktu bergelora dengan dahsyat menggoncangkan bahtera itu. Yakin telah memberi yang terbaik untuk SK melalui artikel-artikel yang dikumpulkan setiap minggunya, namun bahtera keyakinan itu hancur oleh batu karang penolakan. Saat pengharapan tidak bertemu kenyataan, disitulah terlihat kita sesungguhnya. Apakah akan mundur karena goncangan ombak masalah atau memandang ombak itu sebagai kesempatan berlatih meningkatkan kemampuan, dan mejadi penakluk (conqueror) badai?
Tetap SetiaDimana pun kita berada, apa pun pekerjaan/profesi kita, masalah akan tetap ada. Hari ini kita diingatkan meski badai, angin, hujan/apapun itu tidak membatalkan tujuan Yesus bersama kita menciptakan kebenaran dan kasih Allah di dunia ini. Namun banyak orang saat badai datang, membiarkan dirinya terperangkap dan larut dalam masalah itu, sehingga melupakan tujuannya. Hal itu terjadi di awal pelayanan saya di SK. Saat membiarkan diri larut dalam pandangan negatif ‘tidak mempunyai kemampuan menulis’, sedikit demi sedikit tujuan berada di SK untuk melayani Tuhan pun mulai kabur. Seperti orang-orang yang sedang berlayar, ketika badai itu terlalu kuat dan tidak tertembus, saya pun menghindar, berbelok dan ingin mundur. Ingatlah, agar sampai di tujuan kita harus tetap memberanikan diri mengarungi laut kehidupan itu (Wahyu 2:10).
Berada di bahtera “Keluarga Rohanimu”
Hari-hari ini, banyak orang tidak kuat menghadapi masalah, putus asa, akhirnya memilih bunuh diri. Sebagian orang melarikan diri ke alkohol, narkoba, dan menyibukkan diri dalam berbagai aktifitas pelarian lainnya. Sadarlah bahwa sebagian besar masalah di hidup ini tidak bisa selesai dengan sendirinya. Membiarkan atau menutup mata terhadap masalah seringkali hanya membuat masalah semakin parah dan berat. Saat beban begitu menghimpit dan semangat juang pun hilang, ingat engkau tidak sendiri. Yesus menempatkan kita di dunia ini, untuk bersekutu bersama saudara seiman lainnya (Ibr 11: 24-25). Bersepakatlah dalam doa dengan mereka, agar tetap berdiri teguh dalam iman untuk menyelesaikan masalah yang ada (bila belum bergabung dalam komsel segera miliki keluarga rohani, yang akan berjuang dengan Anda). Jika sampai hari ini saya masih melayani Tuhan, bukan karena kuat dan gagah saya. Kehadiran PKS dan teman-teman sekomsel, menghadirkan iman dan kekuatan baru. Di dalam ‘bahtera’ itulah jiwa kami tetap bersukacita meskipunpun realitas hidup begitu pahit.
Tak ada laut yang tidak berombak, tiada hidup yang tak punya masalah. Tak ada kekristenan tanpa salib. Saat badai tidak segera berlalu, penyakit tak seketika sembuh, keadaan ekonomi tidak sekejap membaik. Semua itu tidak harus melenyapkan sukacita dan damai di hati. Kita bisa tetap bersukacita dan bersemangat menghadapi gelombang hidup itu, karena ada Yesus di dalam bahtera kita. ** (veL’s)
Quotas 14092008
“Dengan peningkatan ketinggian beberapa derajat saja, seseorang ternyata mampu mendapatkan jangkauan sudut pandang baru yang sama sekali berbeda”
-Anonim-
Burung-burung tidak kuatir tentang siapa yang nyanyiannya terbaik; mereka lakukan apa yang wajar mereka lakukan. Dari pada membanding-bandingkan dengan talenta orang lain, marilah kita berterima kasih pada Tuhan untuk apapun yang kita miliki dan menggunakannya, karena jika tidak kita akan menjadi orang yang tak berdaya.
-Patricia Erwin Nordman, Walking through the Darkness-
Ketika Segala Sesuatu Mulai Berakhir Dengan Tanya
Apakah ini pantas untuk diperjuangkan? Jika iya, kenapa aku tidak melihat hasilnya? Apakah Allah tidak keliru ataukah aku yang salah mengartikan panggilan-Nya?. Ketika kelelahan mendera, kita mulai bertanya-tanya. Visi mengabur, motivasi pun bergeser. Dan sebenarnya kita tidak sendirian. Sebut saja Yusuf (Kejadian 37) dengan penglihatan luar biasa tentang masa depannya, Daud (I Samuel 16) dengan pengurapan khusus menjadi raja. Namun kenyataan berbicara lain. Kita tidak tahu apakah kedua tokoh ini pernah berkeinginan untuk melupakan saja mimpi dan panggilan Allah dalam hidup mereka karena Alkitab tidak menulis demikian. Tapi, mari kita coba menerka-nerka.
YusufSetelah dijual sebagai budak, tidak lama kemudian ia memperoleh posisi yang cukup nyaman, menjadi tangan kanan dari Potifar (Kejadian 39). Posisi yang bisa menghancurkannya dalam sekejab jika ia tetap tinggal dengan adanya godaan dari istri Potifar. Dan ia tidak tinggal. Setelah dijebloskan ke dalam penjara, ia diangkat menjadi wakil kepala penjara (posisi cukup yang nyaman lagi jika dibandingkan dengan menjadi seorang tahanan). Yusuf bisa memutuskan untuk tinggal dan meniti karier di tempat itu, menggantikan posisi kepala penjara Mesir, misalnya. Tetapi ia tidak tinggal.
Daud
Pada zamannya perkataan seorang nabi seperti Samuel adalah firman dari Allah sendiri. Namun kita bisa menarik satu kesimpulan dalam hidup Daud setelah ia diurapi: WANTED. Sepanjang hidupnya, Daud terus berlari; dikejar-kejar oleh Saul, diburu oleh anaknya sendiri. (I Samuel 19-30, II Samuel 15). Dan Daud bisa memutuskan bahwa ia sudah capek dengan semua yang dialaminya jadi ia kembali saja menjadi seorang penggembala kambing domba seperti yang dulu dilakukannya. Mungkin (seperti halnya kita) dia salah mengartikan kata-kata Samuel. Dan siapa tahu setelah bekerja keras selama beberapa tahun, dia bisa memiliki ribuan ekor kambing domba. Setidaknya ia tidak perlu dikejar-kejar dan selalu merasa cemas. Namun hal itu tidak dilakukannya.
Dalam kelamnya penjara dan gua, Daud dan Yusuf tetap bertahan. Dan mungkin, seperti halnya kita, mereka kerapkali merasa lelah dengan semuanya dan mulai bertanya-tanya. Tetapi satu hal yang pasti mereka tidak menyerah. Pada tahun 1952, Florence Chadwick berusaha menyeberangi samudra yang sangat dingin di antara Pulau Catalina dan Pantai Kalifornia yang berkabut dan laut yang bergelora selama lima belas jam. Otot-ototnya mengejang dan tekadnya melemah. Ia minta agar diangkat dari air. Orang-orang membantunya masuk ke dalam perahu. Mereka mendayung beberapa menit dan kabur mulai memudar dan Florence mendapati ternyata pantai hanya kurang 800 meter jauhnya. Dalam konferensi pers, ia menjelaskan, “Saya hanya melihat kabut; saya rasa kalau saya dapat melihat pantai, saya akan berhasil mencapainya”. Pada akhirnya, kebanyakan orang selalu menyesal karena telah menyerah. Dan pernyataan ‘kalau saja’ hanya menjadi sebuah harapan kosong. Jadi, jangan menyerah! Cobalah untuk memandang cukup jauh ke depan. Satu ayunan lagi, satu langkah lagi, dan siapa tahu itu hanya tinggal beberapa meter di depan. **(e-joy)
Nim’s Island
Nim’s Island (pulau milik Nim) adalah sebuah film keluarga yang dirilis tanggal 4 April 2008 yang dibintangi oleh beberapa aktris yang cukup terkenal, dan disutradarai oleh Jennifer Flackett dan Mark Levin. Nim’s Island berkisah tentang seorang anak perempuan berusia 11 tahun bernama Nim (Abigail Breslin). Nim hanya tinggal berdua dengan ayahnya karena menurut cerita ayahnya, ibunya meninggal ditelan oleh seekor paus. Ayah Nim Jack Rusoe (Gerard Butler) adalah seorang ahli biologi kelautan, mereka tinggal di sebuah pulau di pasifik selatan. Berbeda dengan anak-anak lainya, Nim memiliki hewan-hewan sebagai temannya, Selkie sang singa laut, Fred di kadal, Chica yang seekor kura-kura, dan Galileo sang pelikan.
Dikisahkan Jack pergi belayar dalam sebuah misi penelitian untuk menemukan protozoa jenis baru. Jack tadinya memaksa Nim untuk ikut dengannya, namun Nim berkata bahwa tidak masalah kalau dia ditinggal sendiri di pulaunya sendiri. Disinilah kisah petualangan Nim dimulai, yaitu ketika dia menemukan sebuah buku cerita yang ditulis oleh Alexandra Rover (Jodie Foster), dan email dari Alex Rover yang ditujukan kepada ayahnya. Nim akhirnya mencoba melakukan petualangannya sendiri. Alexandra Rover yang seorang agoraphobia (ketakutan jika berada di luar ruangan) terpaksa harus berlayar ke pulau Nim untuk menyelamatkan Nim yang mengalami masalah.
Kisah petualangan seru Nim semakin bertambah menarik, ketika sekelompok turis datang ke pulau Nim, Ditambah tentang kabar dari Jack yang mengalami kecelakaan kapal, nah bagaimana Nim, Alexandra, dan para hewan mengatasi masalah yang terjadi, Anda bisa menyaksikannya di Nim’s Island, yang kebetulan tanggal 5 Agustus kemarin DVDnya sudah dirilis.**(Redty)






